Seputar Kebaktian Padang Pelprip GPdI Ketapang

 

Kebaktian Padang Pelayanan Pria Pantekosta GPdI Jemaat Ketapang yang diadakan untuk ketiga kalinya telah dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2015 yang lalu bertempat di Villa Yasmin-Ciawi, Bogor. Kebaktian Padang kali ini mengusung thema berjudul: “Persatuan yang Membawa Berkat.”

Peserta yang ikut dalam Kebaktian Padang kali ini berjumlah kurang lebih 135 orang dimana untuk acara ini diikuti bukan saja oleh para pria yang jumlahnya kurang lebih 50 orang, tetapi juga oleh pasangan yang membawa istri dan anak-anak mereka.

Kebaktian dimulai sekitar jam 9 pagi, diawali dengan puji-pujian yang penuh semangat dan sukacita dipimpin oleh Sdr. Mustafa dengan backup singers Sdr. Handoko dan Sdr. Rianto dengan didukung oleh para pemusik yang memakai  gitar akustik yaitu Sdr. Hajar dan Sdr. Yunus Yudianto.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Zefanya Somajaya, gembala jemaat GPdI Berea-Alam Sutera, Tangerang yang penuh semangat disertai dengan ucapan-ucapan humor yang kreatif untuk mendukung penyampaian Firman Tuhan tersebut. Dalam pesan firman Tuhan yang disampaikannya, yang terambil dari Mazmur 133:1-3, beliau menyatakan bahwa ayat ketiga akan digenapi bila ayat yang pertama telah terpenuhi. Artinya berkat-berkat akan diperintahkan oleh Tuhan, bila kita hidup dengan rukun. Berkat-berkat yang dimaksud terdapat dalam ayat dua, yaitu berkat rohani yang digambarkan dengan minyak urapan yang baik di atas kepala yang meleleh ke janggut Harun dan keleher jubahnya.

Persatuan itu menjadi begitu penting dalam kehidupan kita. Karena dalam kesatuan itu ada kualitas yang berbeda jika dibandingkan dengan dilakukan secara sendiri-sendiri. Dalam persatuan ada satu kekuatan yang digabungkan sedemikian rupa, sehingga menghasilkan perbuatan atau tindakan yang luar biasa. Hal ini sesuai dengan peribahasa yang mengatakan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Para pria, adalah imam dalam keluarga yang menjadi berkat dalam keluarga. Para pria adalah penentu  yang menjadi berkat bagi istri, anak-anak dan komunitas dimana mereka berada. Pria adalah kepala yang menjadi penentu, atau sumber. Kalau sumbernya bersih, ke bawahnya bersih. Kalau sumbernya kudus maka istri dan anak-anak juga akan hidup kudus. Tetapi kalau para pria tidak dapat menjadi berkat dan teladan, maka tidak heran banyak keluarga yang tidak menjadi berkat juga.

Mazmur 133 merupakan ungkapan kepedihan, tetapi juga merupakan harapan dari seorang Daud agar keluarga dan bangsanya dapat utuh, menjadi sebuah bangsa yang besar. Hal ini disebabkan karena banyak di antara suku-suku Israel yang tidak menghormati dan menghargai dia sebagai seorang raja. Karena itu Daud diurapi sebanyak tiga kali sampai pada akhirnya semua suku-suku bangsa Israel secara keseluruhan mengakui dia sebagai Raja Israel. Demikian juga dalam keluarganya, ia mengalami penolakan dari anaknya sendiri yaitu Absalom yang memberontak kepadanya dan melakukan kudeta untuk merebut kedudukan sebagai raja .

Demikian juga, sebagai suatu kelompok pria dalam jemaat, Tuhan menghendaki adanya persatuan dan kesatuan  bukan hanya secara fisik saja, tetapi  betul-betul memiliki satu hati dan kerinduan yang sama, satu visi dan misi yang sama. Tidak mudah untuk mewujudkan apa yang menjadi kerinduan Pelprip, tetapi perlu dukungan bersama untuk dapat mewujudkannya dengan memelihara kasih persaudaraan di antara kita semua.

Surat Ibrani 13:1mengatakan, “Peliharalah kasih persaudaraan.” Walaupun kalimat dari ayat tersebut singkat, tetapi bobotnya berat. Dari kata ‘peliharalah’ maka kita mengetahui bahwa untuk itu perlu adanya usaha, upaya, tenggang rasa, perduli dan saling mengerti satu sama lain. Persatuan hanya dapat dipelihara dengan dengan saling tenggang rasa di antara sesama anggota Pelprip. Memelihara kasih persaudaraan memang tidak mudah. Firman Tuhan berkata dalam Amsal 19: 17, Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Kita harus mengerti orang yang lemah, yaitu mereka yang bukan saja lemah secara fisik, atau miskin harta, tetapi juga yang miskin secara emosi  dan perasaannya. Kita harus tenggang rasa, punya toleransi, punya pengertian sehingga  kerinduan kita untuk melihat berkat Tuhan diperintahkan kepada kita dapat digenapi.

Dalam kata sambutan yang disampaikan oleh Sdr. Jimmy Impal selaku Ketua Panitia Kebaktian Padang kali ini, beliau mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Firman Tuhan kali ini menjadi satu fondasi bagi kita untuk melayani Tuhan dalam wadah Pelprip. Hal ini juga hendaknya menjadi satu dorongan untuk kita mengalami persatuan. Beliau juga berharap agar setelah kebaktian padang ini, lebih banyak lagi para pria yang dapat bergabung di ibadah Pelprip nantinya.  Acara ini diadakan dari kita untuk kita, sehingga dengan tema yang dipilih kali ini dapat tercapai tujuan dimaksud.

Bapak Djonny Karyadi selaku Ketua Wadah Koinonia III dalam Majelis Jemaat GPdI Ketapang mengatakan bahwa Kebaktian Padang ini diharapkan dapat dilakukan setiap tahun dan dapat meningkatkan kembali kehadiran jumlah anggota Pelprip, terutama setelah sempat mengalami slow down beberapa waktu yang lalu. Di bawah kepemimpinan pak Tatang Hidayat sebagai Ketua Pelprip kali ini, ada usaha untuk konsolidasi yang lebih baik dan ada wacana berupa kerinduan untuk meningkatkan ibadah Pelprip dari dua minggu sekali menjadi seminggu sekali.

Dalam wawancara yang dilakukan kepada bapak Tatang Hidayat selaku Ketua Pelprip, beliau  melihat bahwa keikutsertaan jumlah anggota maupun keakraban di antara anggota Pelprip dalam kebaktian padang kali ini semakin meningkat. Harapan Pak Tatang adalah terdapat pertumbuhan  jumlah anggota Pelprip dan mereka lebih setia dalam melayani pekerjaan Tuhan. Dalam program kerja Pelprip berikutnya direncanakan akan diadakan Retreat Pelprip, tetapi untuk tahap pertama adalah upaya peningkatan jumlah kehadiran anggota dalam kebaktian-kebaktian Pelprip, dimana dalam Pelprip terdapat persatuan dan kesatuan sehingga tidak ada kelompok-kelompok yang merasa eksklusif. Bertepatan dengan acara kebaktian padang kali  ini, juga diadakan perayaan secara sederhana Hari Ulang Tahun bapak Tatang Hidayat yang ke 55 tahun dengan pemotongan kue ulang tahun yang telah disiapkan oleh Panitia.

Sebagai Pembina Wadah Pelprip, Pdm. Johanes Voege berpendapat bahwa tujuan yang hendak dijalin berupa kebersamaan yang diikat oleh tali persaudaraan dalam kasih adalah sesuai dengan tema kebaktian-kebaktian Pelprip pada tahun ini. Pelaksanaan kebaktian padang Pelprip kali ini cukup aktif, banyak jiwa-jiwa yang ikut bersama keluarga mereka, walaupun bukan bertujuan untuk menjadi event keluarga. Meskipun ada kekurangan, tetapi cukup baik pelaksanaannya karena diawali dengan ibadah walaupun banyak yang datang agak terlambat, kemudian makan bersama dan diadakan beberapa acara permainan untuk membina keakraban dan kebersamaan di antara para peserta. Sambutan dari peserta juga cukup positif, mereka merasa antusias dan merasa diberkati. Beliau juga berpendapat bahwa ibadah padang ini baik untuk dilakukan secara rutin di tahun-tahun berikutnya.

Di antara para peserta, penulis sempat mewawancarai dua orang peserta yaitu bapak Johan dan bapak Pahala Harianja. Pak Johan yang telah mengikuti kebaktian padang untuk kedua kalinya merasa bahwa kebaktian padang kali ini lebih meriah dan lebih banyak pesertanya. Juga dihadiri oleh beberapa orang hamba Tuhan yang ikut hadir sebagai peserta kali ini. Ia berharap agar lebih banyak anggota jemaat yang hadir dalam wadah Pelprip berikutnya. 
Sedangkan bagi bapak Pahala, keikut sertaannya dalam kebaktian padang Pelprip ini juga merupakan yang kedua kalinya. Dalam acara kali ini beliau berpendapat bahwa acara kali ini cukup banyak pesertanya dan teman-teman Pelprip merasa akrab, lepas, tidak ada jarak di antara mereka satu sama lainnya. Rupanya ini merupakan satu kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh para anggota Pelprip, sehingga bukan saja berkumpul secara formal di gereja tetapi juga dalam acara seperti ini.

Beliau berharap agar anggota Pelprip tetap setia dan bertumbuh, baik dalam jumlah anggota dan juga dalam kualitas rohani, sehingga kita benar-benar dapat bergerak maju dan tidak stagnan. Jadi kepada anggotanya diberikan firman Tuhan yang bisa membangun, sehingga  mereka dapat bergerak maju ke arah gereja yang sempurna. Beliau juga memberikan saran agar untuk berikutnya dapat diadakan kegiatan lain seperti acara persekutuan doa dan sharing untuk membagikan pengalaman-pengalaman rohani di antara para anggotanya.
Demikian sekilas yang dapat kami sampaikan dari kegiatan ibadah padang Pelprip kali ini. Kami juga menghimbau kepada para pembaca, terutama kaum pria untuk dapat bergabung dalam ibadah maupun kegiatan wadah Pelprip lainnya di waktu yang akan datang. Tuhan Yesus memberkati. (phm)




Jadwal Ibadah Minggu

Kebaktian Umum

05.30 WIB Umum I
08.15 WIB Umum II
11.15 WIB Umum III
17.00 WIB Umum IV

Sekolah Minggu
07.30 WIB Sekolah Minggu (besar)
09.00 WIB Sekolah Minggu (kecil)
17.30 WIB Sekolah Minggu (kecil)