Khotbah Minggu, 22 April 2018

JANGAN KUATIR, PERCAYA SAJA
Ayat Pokok: Lukas 18:7-8
Oleh: Pdm. Zuharani Mandey

Bangsa Israel terkenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Seringkali bersungut-sungut meskipun sudah banyak melihat dan mengalami pertolongan dan keajaiban Tuhan. Mereka bersungut-sungut ketika dikejar oleh tentara Mesir (Bil. 14:1-4). Lalu Tuhan membelah laut Merah dan mereka berjalan melintasinya hingga selamat sampai di seberang. Tetapi mereka tetap bersungut-sungut karena tidak ada makanan dan minuman (Kel. 17:2-3). Lalu berserulah Musa kepada Tuhan, dan Tuhan menyuruh Musa memukulkan tongkatnya ke gunung batu di Horeb. Maka keluarlah air dari dalam gunung itu sehingga bangsa itu dapat minum (ay. 6). Banyak sekali sungutan-sungutan bangsa Israel di sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian selama empat puluh tahun, sehingga Allah berkata, Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku (Ibr. 3:11). Mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (ay. 19).

Aku tetap percaya
Daud, tetap percaya penuh kepada Tuhan meskipun sudah dikelilingi musuh. Kepercayaannya ini sangat nyata dalam doanya. “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, terhadap siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Maz. 27:1). Kepercayaan Daud terhadap Allah demikian kuat, tak tergoyahkan oleh musuh. Tidak ada rasa kuatir, takut sedikitpun. “Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya (ay. 3).Namun Daud tetaplah seorang manusia biasa yang terkadang juga merasakan sesak, sakit hati, merana jiwa dan tubuh (Maz. 31:1-9).Tetapi dalam doanya selalu ada pernyataan, “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” (ay. 15).

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”
Dunia akan semakin susah, keadaan kita belum terluput, tetapi Tuhan ingin melihat iman. Oleh sebab itu timbul pertanyaan: “Adakah Ia mendapati iman di bumi?” Baiklah kita mengerti perumpamaan tentang seorang penabur. Setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga tetapi tidak mengertinya, itulah benih yang ditabur di pinggir jalan (Mat. 13:19)-> di pinggir jalan tidak ada tanah, benih tidak dapat tumbuh. Setiap orang yang mendengar firman tetapi tidak berakar dalam firman Tuhan, itulah benih yang ditabur di tanah yang berbatu-batu (ay. 20-21)-> akan segera murtad apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu. Setiap orang yang mendengar firman tetapi tidak berbuah karena dihimpit oleh kekuatiran dan tipu daya kekayaan dunia ini, itulah benih yang ditabur di tengah semak duri (ay. 22)->imannya tidak bisa bertumbuh, akhirnya mati.

Setiap orang bila dilanda rasa kuatir kerapkali melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel: bersungut-sungut! Namun “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27).Filipi 4:6 berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Puji Tuhan! Tuhan Yesus memberkati.

Jadwal Ibadah Minggu

  Kebaktian Umum
  05.30 Ibadah I
  08.15 Ibadah II
  11.15 Ibadah III
  17.00 Ibadah IV

Sekolah Minggu
08.15 Kelas Besar
09.00 Kelas Kecil
11.30 Kelas Kecil
17.30 Kelas Kecil