Khotbah Minggu, 23 Juli 2017

JANGAN MENIPU DIRI SENDIRI    
Ayat Pokok: Galatia 6:1-3
Oleh: Pdt. Elim Simamora, Medan

“Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.”

Sebuah buku yang saya baca mengungkapkan fakta bahwa semasa hidupnya, manusia tidak memanfaatkan 95% potensi yang ada dalam dirinya, alias dibawanya ke liang kubur.  Saya tersentak membacanya!  Tuhan mengaruniakan potensi luar biasa, namun manusia gagal memanfaatkannya.  Berapa di antara kita merasa hidupnya berarti dan berharga? 

Introspeksi Diri
Apakah saudara termasuk dalam kategori orang yang menurut rasul Paulus menipu diri sendiri?  Merasa diri berarti, padahal sama sekali tidak berarti?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari ambil waktu untuk merenungkan ayat-ayat berikut:

”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.  Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” – Galatia 6:1-2.

Hidup seorang Kristen menjadi berarti apabila ia berhasil membimbing orang yang telah menyimpang, kemblai ke jalan yang benar!  Adakah kita peduli pada orang-orang sekitar?  Terutama saudara-saudara seiman?  Atau, kita  terlalu sibuk dengan pergumulan dan persoalan sendiri sehingga tak lagi peduli dan memperhatikan orang lain?

Jangan mengaku sudah menjadi orang berarti, jika belum ada jiwa yang kita bawa kembali ke jalan Tuhan!  Jangan menipu diri sendiri!

Tuhan tidak menghitung berapa banyak yang telah kita terima dari orang lain, tetapi berapa banyak yang telah kita berikan untuk menolong orang lain dan membawa mereka kembali ke jalan yang benar.

Evaluasi Diri
“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” – Galatia 6:4.

Firman Tuhan mengajar saudara dan saya untuk menguji dan mengevaluasi apa yang telah kita kerjakan.  Dalam Minggu Penciptaan, Allah mengevaluasi pekerjaanNya.  Ia mengakhiri setiap hari dengan mengevaluasi dan mendapati bahwa “semuanya itu baik.” Bahkan di akhir hari ke-6, Alkitab mencatat, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”  Dengan kata lain, Ia puas dengan pekerjaanNya!

Bagaimana dengan saudara dan saya?  Dapatkah kita mengakhiri setiap hari dengan ucapan syukur, sebab apa yang kita kerjakan sepanjang hari itu, baik, bahkan sungguh amat baik adanya? 

Kontribusi dan Kewajiban
“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” – Galatia 6:6.

Manusia lahir dengan hak dan kewajiban.  Dan berbagi dengan hamba Tuhan adalah salah satu kewajiban jemaat! 
Ketika dunia mengajarkan manusia untuk melulu menuntut hak-haknya, Alkitab mengajarkan kita untuk memenuhi kewajiban sebagai investasi, untuk kemudian menuai apa yang telah kita tabur.

Menuai yang Ditabur
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” – Galatia 6:9.

Jadi apapun yang kita lakukan: menolong orang, membawa orang kembali ke jalan yang benar, melakukan pekerjaan yang baik dan memberi adalah investasi = taburan benih yang akan kita tuai di kemudian hari. 
Dengan menabur kebaikan, saudara dan saya menjadi orang yang berarti.  Puji Tuhan!  Mari, jadi orang yang berarti! Tuhan Yesus memberkati saudara!

Jadwal Ibadah Minggu

Kebaktian Umum

05.30 WIB Umum I
08.15 WIB Umum II
11.15 WIB Umum III
17.00 WIB Umum IV

Sekolah Minggu
07.30 WIB Sekolah Minggu (besar)
09.00 WIB Sekolah Minggu (kecil)
17.30 WIB Sekolah Minggu (kecil)